Ramalan Joyoboyo “Jaman Edan”

Ramalan Joyoboyo “Jaman Edan”
mbah Subowo

Belum puas atau belum cukup kencang manusia mengendarai mobil balap F1, atau naik jet tempur F22, atau naik roket Falcon ke ISS. Langkah berikutnya dengan 20 persen kecepatan cahaya mengarungi ruang angkasa ke tatasurya bintang terdekat antara lain Proxima Centaury atau Betelgeuse. Hal di atas memang masih mustahil saat ini karena faktor propulsi penggerak yang masih lambat ketinggalan jaman.
     Einstein, dan penerusnya dengan perhitungan paling mutakhir saat ini bahwa untuk sebuah wahana mencapai kecepatan dan percepatan mendekati cahaya berbanding lurus dengan jumlah energi yang dibutuhkan. Semakin cepat maka semakin banyak energi yang perlu dibawa dalam perjalanan. Teknologi yang masih tahap teoretis antara lain dalam bentuk di”mampatkan”, seperti dalam konsep warp-drive.
     Keinginan manusia menjelajah tatasurya di bintang lain untuk tujuan melestarikan spesies dengan propulsi mesin warp-drive. Salah satu yang paling maju secara teoretis antara lain menciptakan gelembung warp di sekeliling pesawat angkasa adalah keinginan yang gila (edan, -jawa).
Ya, inilah jaman edan sebagaimana diramalkan oleh Prabu Joyoboyo dan penerusnya R.Ng. Ronggowarsito.
     Manusia ingin melestarikan spesiesnya dengan cara hidup di planet selain bumi. Ide semacam ini telah memicu awal jaman edan/gila.
     Ada lagi kehidupan sekelompok manusia yang dirancang di atas atmosfer sebuah planet. Bahkan hidup di dalam perut sebuah planet dengan tujuan untuk menghindari radiasi matahari. Misalnya planet tersebut tidak memiliki atmosfer atau terlalu tipis atmosfir yang ada.
     Berlomba membuat permukiman permanen di bulan, planet Mars, dengan berbagai cara memang sedang diwujudkan oleh negeri adidaya dalam beberapa dasawarsa mendatang.
     Apa kunci daripada ambisi manusia di atas? Ya, penguasaan, penciptaan atas berbagai sumber energi. Energi fusi nuklir, propulsi warp-drive atau bahkan energi gelap yang memiliki prosentasi signifikan di alam semesta, yang sedang dipelajari beriringan dengan ide menjelajah tata surya lain.
     Materi gelap, energi gelap memang masih menjadi misteri terbesar di alam semesta. Itu juga ingin dipelajari oleh ilmuwan bumi, untuk apa? Sekilas tampak mereka ingin mempelajari/membuat sendiri materi atau energi yang “gelap-gelap” itu?
     Fenomena fisika terkini bagai di atas memang menakjubkan, mengapa saat ini tidak disebut saja kita mengarungi jaman kegelapan saja mengingat ilmuwan tengah mempelajari hal itu? 
    Jebule Prabu Joyoboyo tidak meramalkan jaman kegelapan melainkan "jaman edan".
     Sekian untuk sekali ini.
*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 1:47 AM